Saturday, November 26, 2011

Ibuku


Oh rentangkan tanganMu Bersama datang malam
Agar dapat kurebahkan kepala
Pada bulan di lenganMu

Oh hembuskanlah
Nafas iman ke dalam sukma
Agar dapat kuyakini
Hidup dan kehidupan ini
...
(Hidup IV by Ebiet G Ade)


Malam sunyi, lamat-lamat kudengar ibu bernyanyi pelan. Sesekali kulihat ia berusaha mengingat tiap lirik lagu tersebut. Lagu yang sama yang sering dinyanyikan almarhum kakek.

Ibu yang semakin sholeha di mataku..

Kini ibu bisa mengaji meski dengan makhrijul huruf yang tak beraturan. Dulu beliau tak bisa mengejanya. Di usianya yang sudah berkepala empat beliau memulai belajar dengan buku Iqro. Setahun, dua tahun, semangatnya untuk mempelajari Alquran tak pernah surut. Hingga sekarang beliau selalu rutin membacanya selepas sholat. Sering pula kulihat ibu menangis saat membaca terjemahan Alquran, menyimak ayat demi ayat peringatan. Aku malu pada Ibu karena terkadang aku tak begitu konsisten membaca terjemahan Quran.

Tuesday, November 22, 2011

Pakaian Istimewa


Pagi itu, saya bergamis orange dengan ujung lengan memiliki bordir serta jilbab berwarna senada dan dihiasi bordir pula namun bermotif bunga kecil. Saya memakai bedak tipis lalu parfum nonlkohol ala kadarnya. Di depan cermin saya mematut untuk memastikan bahwa saya sudah berpakaian rapi setelah menyiapkan beberapa benda yang diperlukan kemudian memasukkannya ke dalam tas sampir (tas gendong samping).

Setiap pagi-pagi sekali, di akhir pekan begini adalah jadwal menghadiri majelis ilmu. Seorang teman minta dijemput, bergegas saya menuju tempat parkir motor takut kalau semakin terlambat karena waktu telah lewat 10 menit dari pukul tujuh. Beruntungnya jarak tempat tinggal kami tak begitu jauh jadi waktu keterlambatan tidak begitu banyak.

Saya hampiri teman yang rupanya sudah berada di muka gang. Di sela berbalas senyum ekor matanya menyapu seluruh penampilan saya,“Mau ke undangan nikahan?” saya yakin pertanyaannya tersebut adalah respon terhadap pakaian saya pagi itu. “Gak, kemana-mana” jawab saya dengan senyum.

Tiba di tempat pengajian beberapa teman sudah menunggu. Seperti biasa kami saling bersalaman dan saling bertanya kabar. Sampai pada teman terakhir yang saya salami, dia berkomentar sama karena penampilan saya, “Kirain mau ke undangan walimahan Vith..” (waduh, malu deh he..)

Friday, November 18, 2011

delete


Control+A
delete

Hanya perlu beberapa detik untuk menghapus semua playlist music di lepi yang tak ada hubungannya dengan kebaikan diri. Mulai lagi memberi peringatan kepada diri sendiri. Berdekat-dekat dengan kesalahan menyedikitkan kebaikan, ya kan?

Memang kadangkala aku mendengarnya, beberapa lagu sekedar untuk menambah perbendaharaan kata asing. Aku juga mengakui kalau aku sering menikmatinya. Dan tatkala hal itu mulai berlebihan, duh bikin diri menjadi lalai. Meskipun tetap membiasakan diri dengan suara murottal.

Jadi konklusinya: lagu-lagu itu melalaikan diri dari zikrullah wahai Vithaaa.. ^^

Wednesday, November 9, 2011

#Untittle


Aku tetap makan es krim di panas yang terik dan saat demam, mencuci pakaian walaupun sejam selanjutnya panas naik lebih tinggi hingga membuat hilang tenaga dan nyeri menusuk-nusuk tulang (selama ini aku selalu berfikir tak membiasakan diri dengan laundry kecuali dalam keadaan mendesak) dan aku menerobos hujan walaupun di motor sudah terselip mantel. Meski aku tahu tubuh ini begitu rentan dan memiliki sensitifitas sedikit kuat terhadap perubahan suhu.

Aku hampir selalu memiliki dosis sendiri tiap kali mendapat resep obat (dalam hal mengurangi takarannya) atau hanya menaruh semua racikan obat itu di dalam box medicine sepulang bertemu dokter dan merasa tak perlu meminumnya hingga sore juga malam-malam berikutnya. Ibarat sebuah kuitansi, obat hanya berupa tanda bukti bahwa aku sudah memeriksakan kesehatan.

Aku berfikir lagi tentang beberapa anjuran yang mentah-mentah kutolak tersebut karena terkadang terlalu lelah dalam posisi yang benar. Sebab perlu tahu rasanya berbeda dari kesepakatan-kesepatan bersama. Setidaknya aku tetap menyadari konsekuensi daripilahan sikap yang kubuat. Walaupun di dalam hati aku sering berkata, semoga tidak terjadi apa-apa. Hmm..sebuah pembenaran diri ya? he...

Dan ketika selama dua hari ini tubuh kembali memberi sinyal sakit. Demam yang membuat siang menjadi tak semangat lalu malam kini terasa berat. Ada penyesalan yang semakin menebal. Allah…maafkan aku karena telah menyia-nyiakan nikmat sehat yang telah Engkau beri di sepanjang aliran darahku. Saat aku begitu menyadari bahwa seorang Vitha bukanlah makhluqMu yang kuat. Bahkan degub jantung ini atas kuasaMU.


vcy, sisiungu.
november.