Sunday, October 30, 2011

Jilbab Sebuah Kewajiban Diri




Bismillahirahmannirrahiim…

Kemarin malam jam tangan yang tergeletak di meja leptop menunjukkan pukul 9, ketika itu saya tidak bisa tidur dengan nyaman karena kondisi fisik memberi indikasi sakit. Saya mencoba membuka internet. Berselancar di dunia maya sekedar untuk membaca. Iseng saya buka twitter. Membaca baris demi baris timeline dari beberapa akun twitter yang saya follow dan mengklik link-link yang mungkin berisi informasi. Sampai akhirnya mata saya tertuju pada timeline akun @gadisberjilbabb. Admin mengulas tentang kewajiban berjilbab. Sungguh, kultwitnya memberi saya banyak motivasi dan renungan.


Ya, malam itu saya disegarkan dengan pemahaman yang jauh lebih dalam. Ada teguran, ada perasaan yang sama seperti beberapa tahun lalu saat saya baru mendapat hidayah kemudian langsung memutuskan untuk menutup aurat. Saya seperti mulai hidup lagi kemudian mencoba menata niat kembali karna mungkin telah jauh dari posisinya yang benar bahwa menutup aurat, berjilbab, bukan untuk kesombongan dan tidak menjadikannya salah satu trend berbusana saja agar menarik perhatian melainkan untuk mendapatkan ridhoNya. Berjilbab juga bukan perkara siap atau tidak siap namun hal itu adalah kewajiban yang datangNya dari Allah.

Friday, October 28, 2011

#belajar jepret "Bersemi Kala Hujan"


Belajar menjepret bersama Dwi









Wednesday, October 26, 2011

Berdiam dengan Kenangan


Pagi merekah
mengundang kenangan berdiam dalam ingatan
kala kuingat ungkapan kakek yang mulai kekal ditiap langkah
kau perempuan berpakaianlah yang sopan
lalu hiasi diri dengan rasa malu
entah kenapa aku langsung menyukai kalimatmu.
seperti katamu juga jalan dunia banyak kealpaan 


di pagi merekah
hanya ada mimpi berkelebat mengurung mataku ke mana pun dibenturkan
berbisik hati sarat rindu pada senyummu yang menghilang


sebuah pagi, kali pertama berziarah ke pembaringanmu.
Syawal 1431 H
vcy, sisiungu

Sunday, October 23, 2011

#Untittle




Semoga yang sulit dilapangkan, yang sakit disembuhkan, yang sedih menjadi bahagia dan dikuatkan. Diberi rasa sabar dan syukur yang lebih...amiin Ya Rabb *mari meluaskan hati :)

vcy, sisiungu

Saturday, October 15, 2011

Tak kan Ada yang Berubah




Petunjuk waktu pada leptop telah menunjukkan kisaran 12. Malam seperti bergerak lamban. Hujan turun dengan deras dan udara di sini dingin. Kalau saja kau tahu malam ini aku hanya rindu dengan waktu yang kita miliki lalu bertanya ke mana sesungguhnya dirimu menuju?

Hampir sebulan aku berbenah dengan pikiranku sendiri. Engkau pun tahu, sedari awal aku berkata, aku tak pernah menghiraukan perbedaan. Seorang teman akan terus menjadi teman. Seorang saudara kan terus menjadi saudara. Meski masing-masing kita memilih kesimpulan yang berbeda. Sebab aku membangun rasa ini tanpa melihat rupamu. Namun sebaliknya kini kau rentangkan jarak yang perlahan-lahan menjauh.

Di sini, dengan hujan yang berubah gerimis tiris, aku sedang menampung kenangan. Dibilik hatiku yang lain berucap, adakah yang kita kenang sama? Berteduh dari hujan, menelusur jalan cahaya dan menulis cita-cita. Aku tak ingin cerita itu berputar untuk diriku sendiri. Walaupun akhirnya aku siap dengan keputusanmu.

Teman, duduk di sebelahku…

Tak akan ada yang berubah, seperti dulu sampai detik ini. Kau boleh percaya padaku dan ku akan slalu percaya padamu. Lalu kita kan bercerita tentang mimpi-mimpi yang masih belum bertemu waktu. Tanpa sungkan, tanpa perlu menutupi kekurangan.

* saat aku tak tahu menulis pertemuankah atau sebaliknya, perpisahan…


Pontianak, 15102011
VCY, sisiungu.

Wednesday, October 12, 2011

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi

Ada haru ketika membaca puisinya Goenawan Mohamad (GM)...

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayyat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada

Dia, temanku...



Pelan-pelan aku mengerti. Hanya seorang teman yang tulus yang kan setia membersamai kita meski tidak selalu pada ruang dan waktu yang sama. Ia tak melihat kau kaya atau tiada. Saat kau bahagia dia berikan senyum dan tawa. Kala hati berselimut gundah dia menguatkan, menyilakan pundaknya tuk tempatmu bersandar sejenak.

Teman yang tulus tak begitu memikirkan terkadang betapa sulit harus terus mengerti dirimu. Ia bersabar dengan keluh kesah dan menjadi pendengar yang baik saat kita tak ingin digurui, cukup mendengarkan.

Seorang teman yang tulus tak mendatangkan mudarat. Ia dengan bijak meluruskan ketika kau mulai salah arah. Menyiapkan kedua tangannya tuk meraihmu ketika kau jatuh. Serta umur yang terus menjulur tak membuat pertemanan menjadi hilang.

*bersama orang yang selalu membuatku tersenyum, trimakasih Allah…