Thursday, December 30, 2010

[KKDH] LELAKI SIPIT, TANPAMU AKU KAYA




LELAKI SIPIT, TANPAMU AKU KAYA


Hari ini kulepaskan kau dari hatiku. Kulepaskan juga serpihan-serpihan memori tentangmu yang menyangkut di kepala agar kepala ini mampu kutengadahkan untuk menatap langit biru dan abu-abu. Setelah bahasaku yang terlalu sulit kau pahami juga ketidakpahamanku yang berasal dari kebodohan.

3 tahun yang lalu. Sejak hari perkenalan dalam sebuah training untuk mahasiswa baru dari seluruh fakultas yang berlangsung di luar kota mulai tercipta deburan rasa di dasar hati. Baru satu hari aku mengikuti training, aku sudah terkagum-kagum padamu. Kau yang begitu kharismatik dengan kemeja hijau toska dan celana gunung coklat muda menjadi moderator dihampir setiap sesi acara. Lelaki berwajah oriental, kulit putih dengan mata sipit.

Monday, December 20, 2010

Sepasang Roda Terbang





Kemari! Sejajari langkahku,
mata coklat yang biasa menunduk ke buku lagi tak ingin mengeja
kita edarkan pandangan mencari sesuatu yang sekiranya membuat perasaanmu menarik
pada kesenyapan langit biru bening sepasang roda terbang melintas menembus gemawan
temani aku yang masih tekun mendengar deru mesinnya




arakan mega putih dilangit kanan
kau akan melihat pesonanya dengan matamu yang bercahaya
sepasang roda terbang menari diluas cakrawala
ada gumam yang berbisik lambat, ini hanya isyarat
“kau yang ditakdirkan bertemu atau aku yang di takdirkan berpisah”




Pontianak, sebuah siang
Vitha

Aku dan Kau

Aku sudah berjanji tak ingin banyak mengucap
tapi tetap saja bibir berceloteh banyak
seperti biasa dan hanya denganmu
warna-warna senja yang mengantar kita
pada kedamaian angin
atau saat gerimis ribut turun mengantar nyanyian


dentum-dentum itu mungkin pernah ada
lalu peduli apa dengan jejak perbedaan
tak pernah kubiar diri sendirian dicekam rasa
agar angkasa dapat kita terbangi berdua

hari penuh rona ku berfikir
tak patut perempuan seperti kita menangis
perempuan semacam kau dan aku
yang sewaktu bisa bersuara keras
yang tak hanya mengatup mulut dan merasa perih
meski akhirnya aku benci dengan ketegaran


Pontianak,
Vitha
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Muslim yang paling sempurna imannya adalah yang perilakunya paling baik, dan yang terbaik diantara kalian adalah yang perilakunya paling baik pada istri-istrinya.”

(Al- Hadist)



Padamu Lelaki

 
Padamu lelaki yang memandang nanar tarian air mataku
lihatlah sabar terangkai dari detik ke detik, menit ke menit
saat kau memasung membuatku tertunduk sebab bahasa keegoisanmu
sedang aku hanya mendengar hati terbata-bata
hendak mencicipi arti kebebasan diluar sangkar layaknya burung kecil
menengadah melihat pagi yang cerah



Padamu lelaki yang menjemputku dengan baju pengantin merah hati
masih begitu nyata, terlalu pahit hidup dalam bayang kekasaranmu
yang kerap meninggalkan bekas luka menyentuh



Kau manusia dengan sembilan pikiran
mengaku pemilik tulang rusuk
harus ku katakan pada siapa?
aku tak pernah mencuri tulang rusuk
karena aku manusia dengan sembilan perasaan


 

Saya, sisi Ungu 22.04.2010
Bercermin pada seorang perempuan .

Saturday, December 11, 2010

Ini tentang Rindu




 


Ini tentang Rindu
Aku, di(y)a, dan dia lagi, lalu lelaki kami yang bermata jernih

Di(y)a, bersamanya aku membongkar mimpi
mengulas cerita-cerita kemarin yang diseret waktu

lalu dia, perempuan ketiga
tempat berbagi tawa dan kegelisahan-kegelisan yang kadang menghempas

dan lelakiku bermata jernih.
asa dimatamu biarkan aku mencurinya sedikit


Pontianak, 11.12.2010
Vitha.

Monday, December 6, 2010

Hidup itu seperti balon



Hidup kadang-kadang kaya' balon. Kalo di tekan salah satu sisinya akan menggelembung di sisi lain.

Dipergantian usia tahun, semoga cita2 kebaikan terwujud. Marah, duka, luka jiwa semoga menjadi pelecut taqwa. Terima kasih lewat sejuta kata di sini...

 

Pontianak, 1  Muharram 1432 Hijiriah
Vitha Civtany Yolandary

Saturday, December 4, 2010

Pulang



Banyak serpihan memori yang ingin kulepaskan di kepala
berputar dalam ruang ketidakwarasan
kali ini harus berani mengangkat diri
agar bisa kujamu hari

Tuhan kini aku merinduMU dalam diam
mengupas kegelisahan
membuang kebodohan
mengutuk kegersangan
ini aku yang benar-benar ingin pulang


Pontianak, 04.12.2010
Vitha.