Sisiungu, Viiciyo. Hanya ingin menjadi sederhana; i cover my hair, not my brain. Dan belajar memahami bahwa ad-dunyaa mataaˋun wa khoiru mataaˋihaa al-marˋatush shaalihah" [HR. Muslim] semoga bertemu hikmah di blog ini hingga memperoleh semacam kelegaan serta percikan ide.
Udah hampir 2 minggu jari ini tak melahirkan tulisan, padahal terkadang ada saja satu, dua atau tiga hari sekali walau hanya berupa sebuah sajak. Sebenarnya ada juga beberapa kalimat singkat yang kusisip di status fesbuk, kalimat-kalimat yang kadangkala juga kutahan untuk tidak dituliskan.
3 mingguan Ghazi sakit, tergeletak begitu saja di bawah cermin persegi panjang yang melekat di dinding. Jarang kusentuh, mulai berdebu dan tak lagi menemani ketika pagi, sore ataupun malam. Kuharap ia segera sembuh karena kepala ini sudah penuh dengan tumpukan kata. Sesak dengan rangkaian kesimpulan yang kubuat sendiri.
Ikhlas bukan sekedar bersih hati bukan berarti pasrah dalam cobaan juga bukan mengikuti arus air karena air yang mengalir begitu saja belum tentu menuju tempat yang benar
Sabar, bisa jadi cara kita berlapang dada atas musibah yang menimpa dan memahaminya sebagai takdir yang harus dijalani sambil terus berusaha mencari pemecahannya
Ikhlas dan sabar... mudah diucapkan tapi sulit dilakukan mungkin kita butuh cermin untuk bisa sabar dan ikhlas
by.Enno El-khairity Cerpen Cermin Hati Ikhlas dan Sabar
----------------------------------
Matahari terang, membiaskan cahaya emasnya di sela-sela partikel udara.
Sudah hampir 4 jam ngantri di kampus adik buat ngurusin daftar ulang semesternya. Titah ini diberikannya padaku karna ia pulang ke kampung pertengahan bulan kemarin (hehe). "Pekerjaan" ini membuatku duduk berjam-jam di depan layanan akademik kampus STAIN.
Ketika aku datang pukul 10.30 Wib antrian masih panjang, keadaannya ramai. Kalau begini, aku terbiasa memilih untuk berkenalan dengan orang-orang yang duduknya paling dekat. Menunggu dengan bercengkrama lebih menyenangkan agar tak merasa bosan. Kulirik sepintas gadis yang sibuk dengan leptop dipangkuannya. Ia duduk di sebelah kiri. Senyumku mengembang, ada sesuatu dalam genggamannya yang membuat tertarik, buku dengan cover gambar wanita bercadar dan warna seluruh sampul merah bata. Aku memastikan itu adalah novel. Iseng-iseng jadi pengen pinjam, namun ternyata kumpulan cerpen dengan judul "Cermin Hati Ikhlas dan Sabar", setelah berkenalan akhirnya ku tahu namanya Omi, baru dikenal namun cukup ramah meski ia terus sibuk dengan leptopnya.
Lebih yang duduk di samping kananku, urusan administrasi malah dia yang menyelesaikannya. Walaupun masih aku yang berinisiatif mengenalkan diri terlebih dahulu namun Umi , gadis berperawakan kecil dengan jilbab hitam sewarna frame kacamatanya, tanpa bertanya banyak langsung menawarkan bantuan untuk mengambilkan form daftar ulang, membantuku mengisinya kemudian memasukkannya kembali ke bagian akademik.
Disela-sela waktu menunggu nama adik dipanggil kami mengulang perkenalan, menanyakan alamat rumah satu sama lain, ngomongin aktivitas sampai bertukar nomor handphone.
"Kalau hari terakhir begini mba, ngantrinya bisa sampai ashar"terang umi.
"Bahkan masih disambung besok"
"Kalau saya udah daftar kemarin mba, hari ini cuman nemanin teman"tambahnya lagi.
Kami masih terus berbincang karna nama adikku belum juga di sebutkan oleh petugas pendaftaran bahkan ia yang lebih mendominasi obrolan. Dari masalah lowongan pekerjaan di sebuah saung rumah makan yang coba diambil sampai sisi kehidupannya yang lain. Sedang aku kebanyakan mendengar lalu sesekali menanggapi. Subhanallah, tetap ada teman meski datang sendiri tadi.
"Tuh kan Allah selalu menyelipkan orang-orang baik dalam kehidupan kita, membantu tanpa pamrih" aku membatin.
Hingga pukul 2 siang ia pamit untuk pulang terlebih dahulu karena temannya sudah selesai mendaftar. Dan aku masih terus menunggu, meski jenuh juga, mencoba bersabar lagi. Beberapa teman yang tanpa sengaja kujumpa dan kukenal yang juga ingin daftar ulang menyarankan untuk datang kembali besok. Tapi kalau besok ada beberapa hal lain yang harus diselesaikan, pikirku.
Setelah sedikit berdiskusi dengan seorang teman yang akhirnya datang selang beberapa jam kemudian dengan maksud yang sama, kami memutuskan untuk kembali esok hari. Namun ternyata sebelum beranjak pergi aku mendengar nama adik di panggil.
"Verra Purnama Anjelita" dua kali namanya disebutkan melalui mikropon.
Kemudian aku menyerahkan uang lalu mengambil slip bukti pembayaran semester. Alhamdulillah, sabar membuahkan hasil. Hari ini diajarkan kan kembali olehNYA untuk bersyukur karena mendapat pertolongan serta untuk selalu ikhlas dan sabar.