Monday, August 30, 2010

Memetik Sahaja



Memetik Sahaja


Berangkat dari ruang kebodohan, aku menjumpai waktu.

Ada yang hendak kubuang, kesal bersama kenangan
Kegelisahan-kegelisahan ditiap sisi
Lidah, hati, mata, nyawa,
bertumbuh hening.

Ada yang sirna, menjelma senandung matahari menguning.
Dan tiap diam yang berteman kemilau.
Aku memetiknya; sahaja.

Diam, perhiasan tanpa berhias

Ptk,29.10.2010
VithaCivtanyYolandary.

Monday, August 23, 2010

Nulissssss......


Hei…


Aku rindu nulis, banget!

Udah hampir 2 minggu jari ini tak melahirkan tulisan, padahal terkadang ada saja satu, dua atau tiga hari sekali walau hanya berupa sebuah sajak. Sebenarnya ada juga beberapa kalimat singkat yang kusisip di status fesbuk, kalimat-kalimat yang kadangkala juga kutahan untuk tidak dituliskan.


3 mingguan Ghazi sakit, tergeletak begitu saja di bawah cermin persegi panjang yang melekat di dinding. Jarang kusentuh, mulai berdebu dan tak lagi menemani ketika pagi, sore ataupun malam. Kuharap ia segera sembuh karena kepala ini sudah penuh dengan tumpukan kata. Sesak dengan rangkaian kesimpulan yang kubuat sendiri.


To be continue…

Monday, August 9, 2010

Ikhlas dan Sabar


Cermin Hati Ikhlas dan Sabar

Ikhlas bukan sekedar bersih hati
bukan berarti pasrah dalam cobaan
juga bukan mengikuti arus air
karena air yang mengalir begitu saja
belum tentu menuju tempat yang benar

Sabar, bisa jadi cara kita berlapang dada
atas musibah yang menimpa
dan memahaminya sebagai takdir
yang harus dijalani sambil terus berusaha
mencari pemecahannya

Ikhlas dan sabar...
mudah diucapkan tapi sulit dilakukan
mungkin kita butuh cermin
untuk bisa sabar dan ikhlas

by.Enno El-khairity
Cerpen Cermin Hati Ikhlas dan Sabar


----------------------------------

Matahari terang, membiaskan cahaya emasnya di sela-sela partikel udara.

Sudah hampir 4 jam ngantri di kampus adik buat ngurusin daftar ulang semesternya. Titah ini diberikannya padaku karna ia pulang ke kampung pertengahan bulan kemarin (hehe). "Pekerjaan" ini membuatku duduk berjam-jam di depan layanan akademik kampus STAIN.

Ketika aku datang pukul 10.30 Wib antrian masih panjang, keadaannya ramai. Kalau begini, aku terbiasa memilih untuk berkenalan dengan orang-orang yang duduknya paling dekat. Menunggu dengan bercengkrama lebih menyenangkan agar tak merasa bosan. Kulirik sepintas gadis yang sibuk dengan leptop dipangkuannya. Ia duduk di sebelah kiri. Senyumku mengembang, ada sesuatu dalam genggamannya yang membuat tertarik, buku dengan cover gambar wanita bercadar dan warna seluruh sampul merah bata. Aku memastikan itu adalah novel. Iseng-iseng jadi pengen pinjam, namun ternyata kumpulan cerpen dengan judul "Cermin Hati Ikhlas dan Sabar", setelah berkenalan akhirnya ku tahu namanya Omi, baru dikenal namun cukup ramah meski ia terus sibuk dengan leptopnya.

Lebih yang duduk di samping kananku, urusan administrasi malah dia yang menyelesaikannya. Walaupun masih aku yang berinisiatif mengenalkan diri terlebih dahulu namun Umi , gadis berperawakan kecil dengan jilbab hitam sewarna frame kacamatanya, tanpa bertanya banyak langsung menawarkan bantuan untuk mengambilkan form daftar ulang, membantuku mengisinya kemudian memasukkannya kembali ke bagian akademik.

Disela-sela waktu menunggu nama adik dipanggil kami mengulang perkenalan, menanyakan alamat rumah satu sama lain, ngomongin aktivitas sampai bertukar nomor handphone.

"Kalau hari terakhir begini mba, ngantrinya bisa sampai ashar"terang umi.

"Bahkan masih disambung besok"

"Kalau saya udah daftar kemarin mba, hari ini cuman nemanin teman"tambahnya lagi.

Kami masih terus berbincang karna nama adikku belum juga di sebutkan oleh petugas pendaftaran bahkan ia yang lebih mendominasi obrolan. Dari masalah lowongan pekerjaan di sebuah saung rumah makan yang coba diambil sampai sisi kehidupannya yang lain. Sedang aku kebanyakan mendengar lalu sesekali menanggapi. Subhanallah, tetap ada teman meski datang sendiri tadi.

"Tuh kan Allah selalu menyelipkan orang-orang baik dalam kehidupan kita, membantu tanpa pamrih" aku membatin.

Hingga pukul 2 siang ia pamit untuk pulang terlebih dahulu karena temannya sudah selesai mendaftar. Dan aku masih terus menunggu, meski jenuh juga, mencoba bersabar lagi. Beberapa teman yang tanpa sengaja kujumpa dan kukenal yang juga ingin daftar ulang menyarankan untuk datang kembali besok. Tapi kalau besok ada beberapa hal lain yang harus diselesaikan, pikirku.

Setelah sedikit berdiskusi dengan seorang teman yang akhirnya datang selang beberapa jam kemudian dengan maksud yang sama, kami memutuskan untuk kembali esok hari. Namun ternyata sebelum beranjak pergi aku mendengar nama adik di panggil.

"Verra Purnama Anjelita" dua kali namanya disebutkan melalui mikropon.

Kemudian aku menyerahkan uang lalu mengambil slip bukti pembayaran semester. Alhamdulillah, sabar membuahkan hasil. Hari ini diajarkan kan kembali olehNYA untuk bersyukur karena mendapat pertolongan serta untuk selalu ikhlas dan sabar.


Pontianak, 09082010

Friday, August 6, 2010

Sujud


Sujud
; aku di sini

Kususun percakapan demi percakapan yang mengering
saat bodoh merajai
kemanapun berlari
selalu ada mati

kusisih separuh waktu terbelenggu
kucari cahaya di bawa awan-awan gelap

kemana kristal-kristal airmata yang ditahan semenjak kepasrahan ditanggalkan
kemana kubawa galau terpenggal
dan semua jawaban sajak yang diterbangkan untukNya
ada segunung lembar kegelisahan
terbang diantara partikel-partikel udara

ini, cinta
padaMU Maha Penjaga
terangi hati biar gemintang
tuk petik bunga kelembutan
merekahkan tawaqal


Pontianak, 06082010
Sisi Ungu, di sore tak berjingga

Tuesday, August 3, 2010

Cinta Tak Bersyarat



Sajak Seribu Kuntum Bunga
; bernama engkau


Pulanglah, kau sudah begitu lelah
pulanglah ketika gerimis penuh di wajah
karena aku perempuan yang paling setia
membuang sesak juga menghapus tangismu
menyimpan gejolak kisah tenggelam purnama

Aku terpaku pada sketsa lensa matamu
kala pertemuan sore dipenuhi langit gelap
dan ku hanya diam berkemas tinggalkan bayangan
karena hujan telah mengundang gelap terlelap

Bintang malam kuhitung sendiri
seperti musim yang menahun
menghilangkan jejak yang terselip di ruas-ruas waktu
lagi-lagi aku terdiam
menunggui malam berubah warna

kau mungkin tak mengenal
bahwa akulah sang perindu
menyimpan cinta tak bersyarat
memekar seribu kuntum bunga
dihalaman hati

saat kau mengukir namaku dikesepian
ingatkah ada catatan sore yang kuselip di tas ranselmu
kala kau berangkat dan lagi-lagi pula aku tersenyum
memandang punggungmu yang hilang bersama matahari dan debu jalanan
suatu kali kau mungkin pernah lupa pada warna jilbabku
tapi aku tak pernah lupa pada senyummu
pada pijar di matamu

ada senandung yang kuingat dari ucapmu
mengalir bening ketulusan
maka semenjak hujan membuatku terpaku dipintu
aku tak pernah berhenti berdoa
agar cahaya memancar sampai padamu
menggenggam cinta bernama ; engkau.


Vitha Civtany Yolandary.
Pontianak, 12:04. 03082010.
Menjenguk ibu dalam diriku.