Friday, April 23, 2010

KITA




 
Kau lihat sebuah hari saat menyaksikan matahari merekah untuk kita
kemudian awan mendung bergelantungan mulai merintikkan gerimis tipis
menghiasi sore menua yang terasa penat dengan angan-angan
dan ada doa yang kuterbangkan
saat aku mulai mengeja kisah dan bertanya apakah intuisiku benar
kini aku merasa dunia sesingkat kedipan mata


Kadangkala kutunggu kabarmu yang diam
apakah engkau baik-baik saja seperti tanah kering yang bernyawa
karena tersiram hujan deras merebas
hari-hariku yang kau selip dengan pesan adalah kisah sederhana
yang kadangkala membuat kita merasa lebih baik
hingga segaris senyum membersit juga tawa segar muncul diwajah


*setiap persahabatan ia adalah titipan
VCY, sisiungu.
2010 



Masih kuingat sore indah saat langit mulai remang dengan cerita cita-cita kehidupan kita lalu terselip keinginan suatu hari janji bertemu setelah semua memiliki keluarga syurga. Kebersamaan 6 gadis yang kadang ku tanyakan dalam hati, “Kitakah Jomblo Beriman? 



Setiap kalian menciptakan warna sendiri dalam kehidupan seorang saya. Dan kini Dhe yang tinggal menunggu hari menggenapkan dien. Semoga barokah perjalanan menuju “Baiti Jannati”. Tak ada yang lebih indah daripada menjaga diri agar mendapat limpahan cinta dariNya dalam langkah-langkah yang kita ayun bersama. Pun akhirnya kumengerti bahwa ukhuwah tidak hanya berisi kebahagiaan namun ia juga kisah tentang kesedihan yang kadang menelingkup.



Kalian, sahabat hati yang “tak terganti” ;
Adha, Anty, Juna, Lita en Yessy.

VCY, sisi ungu 21 April 2010

Tuesday, April 20, 2010

Menunggu

Menunggu


(Catatan misterius, kemaren2 lagi baca ulang beberapa notes yang tersimpan, siapa penulisnya saya tak tahu, Ehmm...begitukah? membuat saya bermain dengan pikiran)


Cinta adalah ketika kamu membawa perasaan,
kesabaran dan romantis dalam suatu hubungan
dan menemukan bahwa kamu perduli dengan dia.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu
bertemu seseorang
yang sangat berarti bagimu.
Hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi
tidak berarti
dan kamu harus membiarkannya pergi


Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik,
akan memberi kesusahan untuk menguji kita.
Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya dapat
tertanam lebih dalam.


Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya.
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti
namun kita tetap harus percaya bahwa ketika
Ia mengambil sesuatu,
Ia telah siap memberi yang lebih baik.


Mungkin Tuhan menginginkan kita untuk bertemu
dengan orang yang tidak tepat sebelum bertemu.
Jadi ketika kita akhirnya bertemu dengan orang yang tepat,
kita akan tahu betapa berharganya anugerah tersebut.


Mengapa Menunggu ?????
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan,
Kita tidak ingin tergesa-gesa.
Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.
Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai,
kita tidak ingin kehilangan jati diri kita dalam pencarian itu.


Jika ingin berlari, maka belajarlah berjalan dahulu
Jika ingin berenang, maka belajarlah mengapung dahulu
Jika ingin dicintai, maka belajarlah mencintai dahulu


Pada akhirnya....
Lebih baik menunggu orang yang kita inginkan,
ketimbang memilih apa yang ada.
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai,
ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada.
tetap lebih baik menunggu orang yang tepat,
karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan
bersama pilihan yang salah
karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius.


Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam,
Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,
Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan,
Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.


Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama,
Dan penantian kita tidaklah sia-sia.
Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal (iman, keberanian dan pengharapan)
Tapi penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorang pun bayangkan.


Pada akhirnya......
Tuhan dengan segala hikmat-Nya meminta kita menunggu,
pasti...karena alasan yang penting.

Sunday, April 18, 2010

Duduk dengan diri sendiri



Duduk dengan diri sendiri


Kau pernah melakukannya kan? Duduk dengan dirimu sendiri. Bukan karena tak memiliki teman berbincang atau lagi tak punya kerjaan. Tapi karena kadangkala kita memang perlu sendiri, lari dari keramaian. Sebuah hal substansial yang sering terlupakan. Aku duduk dengan diriku sendiri, ada hening yang tak menjengahkan dan angin yang tak seberapa. Mencerna semua hal yang terjadi dan mengurai banyak kisah yang telah berkarat lalu menyusun daftar pertanyaan dan mencari jawaban yang tak semua kudapatkan. Banyak rasanya yang perlu dikritisi, dipantau, dikhawatirkan dari jiwa ini.

Duduk dengan diri sendiri mungkin semacam jeda ketika diri sudah terlampau jauh berlari. Sebab, kadang, sedikit banyak, kita menciptakan pengkhianatan bagi diri kita sendiri. Hidup dengan pilihan-pilihan yang salah. Duduk dengan diri sendiri adalah semacam membaca buku kisah biografi diri, mengurutkan cerita-cerita apa saja yang sudah atau belum tuntas dibaca. Dan ketika itu aku merasa bahwa setiap detik bergulir sejuk seperti tetes hujan yang turun satu-satu saat membaca kerusuhan hati yang terpendam.

Bersama diri, berbincang dengan hati untuk melahirkan sensitifitas dan keteduhan. Agar mengerti bahwa ada hari-hari kadang hati ini tak bisa membimbing dan memahami apa yang didengar dan dilihat karna sudah terlalu banyak kesalahan. Khususnya hatiku bukan yang kumaksud hatimu. Karena sekali lagi aku sedang berbicara dengan diri sendiri.


Hari ini aku bertanya tentang aku…

Wahai diri apakah engkau akan bertemu dengan DIA dengan begitu banyak kesalahan?
Sudahkah minta maaf untuk satu per satu kesalahan?
Sudah berapa banyak lembar-lembar buku yang kau baca, namun semuapun kadang tak menambah kebaikan?
Sudahkah kau perhatikan hubunganmu dengan sesama manusia?
Adakah sabar dan syukur yang kau bawa tiap pertama kali kakimu menginjak tanah?
Adakah keikhlasan yang kau selipkan dalam setiap gerakmu?
Lalu akhlak? Lisanmu?

Malam ini, aku duduk dengan diriku sendiri. Pengaduan pada diri sendiri yang kadang berbalas gumam dalam begitu banyak suasana kesunyian. Dan aku mendapatkan ini; RASA MALU, tidak lain karena mencoba tahu diri.

Wednesday, April 14, 2010

Come Back...


Senang sekali bisa pulang, menjejakkan lagi kaki di seluruh ruang Sisi Ungu. Seperti kembali setelah mengalami perjalanan jauh beberapa hari. Namun sebenarnya ini hanya perkara “Menepikan Diri” yang bukan berarti pada jauh atau pun dekat tempat berhenti tapi ia hanya masalah keinginan ketika tak lagi ingin bertemu. Karena sesungguhnya aku tak kemana-mana, masih begitu dekat denganmu, masih melewati hari-hari sampai ujung langit mulai remang, pertanda sore mulai menua. .


Pulang ke rumah “sisi Ungu”, menyatukan pikiran ke dalam susunan kata, setidaknya ini yang bisa kulakukan. Kalimat tepatnya mungkin mengurutkan tuts-tuts huruf karna seperti biasa tak ada yang bisa kulakukan selain menulis. Sebuah aktivitas yang lebih mengasyikkan dari pada menonton TV, baca buku, atau sekedar jalan-jalan. Hari ini aku memilih mendengarkan hati kecil yang berbisik” Kau tak pernah bisa menghentikan jari”. Dan seolah-olah selalu ada sesuatu yang menjemputku pulang kesini. Kosakata yang kini mengartikan keinginan hendak bertemu, dan ia adalah “rindu”. Aku rindu Sisi Ungu, rumah sederhana ini.


Saya, Sisi Ungu

If I wrote a note…




If I wrote a note…


Mungkin ada beberapa diantaranya mengatakan blog ini “melankolik” karena isinya kebanyakan adalah sajak (meskipun aku lebih suka mengistilahkan dengan “kata-kata aneh dalam goresan hari”) ditambah beberapa kisah hidup yang kumaknai karena keinginan untuk berbagi rasa. Ada yang berpendapat bahwa sebuah blog lebih baik tidak hanya berisi curhat si pemilik blognya saja tetapi juga berisi informasi atau pengetahuan lain sehingga setiap orang yang berkunjung bisa lebih banyak mendapat manfaat. Aku setuju dan meyakini bahwa apa yang kita lakukan harusnya bermanfaat untuk orang lain. Namun juga berpendapat bahwa masalah inspirasi tulisan adalah masalah pilihan. Menulis adalah menjejalkan semua rasa yang diingin namun kadang tak semua hal baik untuk diekspresikan.


Mengapa aku menulis? Saat menulis ada satu hal yang benar-benar dikoreksi dari semua kata yang terangkai yaitu sejatinya ada manfaat yang dapat dipetik. Seperti yang pernah kukatakan bahwa rumah sederhana ini, “Saya, sisi UNGU” setidaknya dapat dijadikan tempat perhentian sejenak, tempat mengambil jarak dari masalah, untuk kemudian mencari titik jernih. Menemukan “insight” dari cerita- cerita biasa yang kugoreskan, hingga bagi yang singgah memperoleh semacam kelegaan dan percikan ide untuk keluar dari masalah. Yah, intinya ada semacam celah bagi jiwa yang penat atau menemukan “EXIT WINDOW”. Jalan Keluar. Tanpa ada keinginan untuk menggurui sedikitpun.


Mengapa aku menulis? aku hanya sedang mengajari diri agar menjadi diri sendiri dan menjadi apa yang kuingin. Mengapa aku menulis? secara sederhana aku ingin menulis apa yang membuat lega ketika menuliskannya. Mengapa kau mau membacanya? kau boleh percaya ataupun tidak, kau boleh sependapat ataupun memilih memegang pendapatmu sendiri. Kau berhak untuk menyimpan apa yang kupikir di kepalamu sedetik dan malah berhak pula untuk membuangnya. Yang kupahami, layaknya bicara, menulis pun harus memberi manfaat meski sedikit.

Saya, sisi Ungu.